HIV/AIDS di Balik Sunrise of Java
Hal
tersebut menjadikan Banyuwangi semakin pada posisi rentan, menjadikan mobilitas
kelompok beresiko (WPS, pelanggan guy/homo, waria, pengguna napza suntik dan
ODHA sendiri) semakin tinggi. Dari hasil seminar yang pernah saya ikuti
bertajuk “Situasi HIV-AIDS Kab Banyuwangi” menginformasikan track record
penemuan HIV/AIDS sampai akhir 2012, yaitu adanya total temuan 1416 kasus HIV
dengan total kasus 603 dan total kematian berjumlah 264 kasus (menurut Dinas
Kesehatan Banyuwangi). Belum lagi kenyataan menemukan bahwa di Banyuwangi
sendiri terdapat populasi kunci yang tersebar merata di wilayah Banyuwangi dan
sampai pada pelosok-pelosok desa.
Dengan
adanya masalah yang cukup serius, Banyuwangi sendiri tidak hanya berdiam diri
dan pasrah dengan keadaan yang gencar woro-woro dengan penyakit mematikan. KPA
(Komisi Penanggulangan Aids) berinisiatif untuk mengumpulkan
sejumlah instansi yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) IMS, guna
membahas rencana tindak lanjut penanganan penyakit mematikan ini. Sehingga ke
depan diharapkan tercipta lingkungan yang kondusif untuk berjalannya program
Pencegahan Melalui Transmisi Seksual (PMTS).
Menurut
Plh. Sekretaris KPA Waluyo, SKP, MM, pada tahun 2011 lalu, berdasarkan
penelitian Kementerian Kesehatan Model Matematika Epidemi HIV di
Indonesia tahun 2008 – 2014, terdapat 8170 ibu hamil yang positif HIV di
Indonesia. Makin lama kasus HIV/AIDS di kalangan perempuan sangat
memprihatinkan. Padahal mereka tidak berperilaku resiko seksual tinggi namun
tertular dari pasangannya yang berperilaku seksual tinggi. Situasi ini
menempatkan anak pada posisi rentan HIV/AIDS dari orang tuanya yang mengidap penyakit
yang menurunkan imunitas tubuh tersebut, dengan penularan melalui proses
persalinan, menyusui maupun media lain seperti transfusi darah.
Di Banyuwangi sendiri, jumlah penderita HIV/AIDS per April
2013 terhitung telah menembus angka 1451 orang. Angka yang cukup fantastis menurut
saya. Kenyataan banyak pekerja seks yang nilai tawarnya rendah sudah tidak
rahasia umum lagi menjadi penambah faktor meningkatnya HIV/AIDS. Saya pernah
bertanya kepada beberapa PSK mengenai pemakaian kondom, ia memaparkan pelanggannya
tak mau menggunakan kondom, dan mereka
selalu mengalah, ditambah dengan ketidakberanian petugas layanan kesehatan atau
puskesmas terdekat untuk memberikan pelayanan kesehatan mobile di lokalisasi
pasca ditutupnya beberapa titik lokalisasi seperti Ringin Telu (Bangorejo),
Klopoan (Singojuruh), Sumber Kembang (Tegalsari), Blibis dan Padang Pasir
(Rogojampi). Padahal tak menutup kemungkinan masih ada lokalisasi yang masih
beroperasi atau berpindah ke hotel kelas melati, sehingga hal ini cukup
berdampak terhadap perkembangan kasus IMS atau penyakit kelamin di Banyuwangi.
Inilah figure di balik
Banyuwangi, yang kini tengah menjadi pemilik kasus HIV/AIDS tertinggi nomor dua
se-Jawa Timur.
seperti yang d jelaskan di artikel anda ya, kira" bagaimana ya rencana Banyuwangi untuk menangani HIV/AIDS ini ?
BalasHapus