Selasa, 20 Agustus 2013

HIV/AIDS

HIV/AIDS di Balik Sunrise of Java



Banyuwangi- The Sunrise of Java, dibalik pamor kemegahan alam yang menjanjikan pelancong atau parwisatawan asing, Banyuwangi yang kini memiliki julukan baru “The Sunrise of Java” kota yang berlokasi paling timur pulau jawa ini merupakan wilayah “sending area” yaitu wilayah yang berbatasan dengan pulau Bali. Selain itu Banyuwangi juga sebagai “transit area” dan “arrived area”, yaitu sebagai wilayah arus lalu lintas para pekerja seks komersial. Banyuwangi merupakan kabupaten di Jawa Timur yang memiliki angka prevalensi PMS dan HIV/AIDS yang cukup tinggi bahkan tataran Nasional Banyuwangi merupakan wilayah terkonsentret.
Hal tersebut menjadikan Banyuwangi semakin pada posisi rentan, menjadikan mobilitas kelompok beresiko (WPS, pelanggan guy/homo, waria, pengguna napza suntik dan ODHA sendiri) semakin tinggi. Dari hasil seminar yang pernah saya ikuti bertajuk “Situasi HIV-AIDS Kab Banyuwangi” menginformasikan track record penemuan HIV/AIDS sampai akhir 2012, yaitu adanya total temuan 1416 kasus HIV dengan total kasus 603 dan total kematian berjumlah 264 kasus (menurut Dinas Kesehatan Banyuwangi). Belum lagi kenyataan menemukan bahwa di Banyuwangi sendiri terdapat populasi kunci yang tersebar merata di wilayah Banyuwangi dan sampai pada pelosok-pelosok desa.
Dengan adanya masalah yang cukup serius, Banyuwangi sendiri tidak hanya berdiam diri dan pasrah dengan keadaan yang gencar woro-woro dengan penyakit mematikan. KPA (Komisi Penanggulangan Aids) berinisiatif untuk mengumpulkan sejumlah instansi yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) IMS,  guna membahas rencana tindak lanjut penanganan penyakit mematikan ini. Sehingga ke depan diharapkan tercipta lingkungan yang kondusif untuk berjalannya program Pencegahan Melalui Transmisi Seksual (PMTS). Menurut Plh. Sekretaris KPA Waluyo, SKP, MM, pada tahun 2011 lalu, berdasarkan penelitian  Kementerian Kesehatan Model Matematika Epidemi HIV di Indonesia tahun 2008 – 2014, terdapat 8170 ibu hamil yang positif HIV di Indonesia. Makin lama kasus HIV/AIDS di kalangan perempuan sangat memprihatinkan. Padahal mereka tidak berperilaku resiko seksual tinggi namun tertular dari pasangannya yang berperilaku seksual tinggi. Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan HIV/AIDS dari orang tuanya yang mengidap penyakit yang menurunkan imunitas tubuh tersebut, dengan penularan melalui proses persalinan, menyusui maupun media lain seperti transfusi darah.
Di Banyuwangi sendiri, jumlah penderita HIV/AIDS per April 2013 terhitung telah menembus angka 1451 orang. Angka yang cukup fantastis menurut saya. Kenyataan banyak pekerja seks yang nilai tawarnya rendah sudah tidak rahasia umum lagi menjadi penambah faktor meningkatnya HIV/AIDS. Saya pernah bertanya kepada beberapa PSK mengenai pemakaian kondom, ia memaparkan pelanggannya tak mau menggunakan kondom,  dan mereka selalu mengalah, ditambah dengan ketidakberanian petugas layanan kesehatan atau puskesmas terdekat untuk memberikan pelayanan kesehatan mobile di lokalisasi pasca ditutupnya beberapa titik lokalisasi seperti Ringin Telu (Bangorejo), Klopoan (Singojuruh), Sumber Kembang (Tegalsari), Blibis dan Padang Pasir (Rogojampi). Padahal tak menutup kemungkinan masih ada lokalisasi yang masih beroperasi atau berpindah ke hotel kelas melati, sehingga hal ini cukup berdampak terhadap perkembangan kasus IMS atau penyakit kelamin di Banyuwangi. Inilah figure di balik Banyuwangi, yang kini tengah menjadi pemilik kasus HIV/AIDS tertinggi nomor dua se-Jawa Timur.

PENGALAMAN PRIBADI KE SINGAPURA

Ini merupakan pengalaman pribadi saya saat berkunjung ke Singapura, step by step ya guys. Pertama-tama yang perlu kalian ketahui adalah per...